Sinopsis tentang pengelolaan pasar sehat di Payakumbuh

Pasar sehat adalah kondisi pasar yang bersih, aman, nyaman, dan sehat yang terwujud melalui kerjasama seluruh stakeholder terkait dalam menyediakan bahan pangan yang aman dan bergizi bagi masyarakat (Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 519 tahun 2008 mengenai Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat).

Kriteria Pasar Sehat: sesuai Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 519 Tahun 2008 mengatur enam (6) aspek kriteria lingkungan pasar yang dianggap sehat, yaitu lokasi, bangunan, sarana pendukung higiene dan sanitasi, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS),  keamanan dan fasilitas pendukung lainnya.

PELAKSANAAN PENYELENGGARAAN PASAR SEHAT

1.1. Advokasi dan Sosialisasi

Advokasi

Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperoleh dukungan politis dari penentu kebijakan yakni Walikota Payakumbuh, pimpinan serta anggota DPR terutama yang membidangi perekonomian maupun kesejahteraan sosial (komisi C). Keluaran yang diharapkan dari kegiatan advokasi ini berupa peraturan daerah dan atau kebijakan daerah, dukungan pembiayaan maupun dukungan lain untuk keberhasilan penyelenggaraan pasar sehat. Kegiatan yang dilakukan meliputi:

  1. Pertemuan koordinasi dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait; kesehatan, DPPKA, dinas pasar, pekerjaan umum, peternakan/perikanan, koperasi, kebersihan, perhubungan, penerangan serta instansi terkait lainnya maupun pihak swasta untuk memperoleh kesepakatan mengenai rencana penyelenggaraan pasar sehat secara berkesinambungan di kabupaten/kota yang bersangkutan. (Saran : (1) Kegiatan pertemuan difasilitasi oleh Bappeda. (2) Juknis ini ditandatangani oleh dua eselon satu dilingkungan Kementerian Kesehatan dan Kemdagri karena terkait dgn SKPD)
  2. Hasil kesepakatan ditindak lanjuti dengan melakukan advokasi kepada Walikota untuk memperoleh hasil maksimal berupa persetujuan dan atau kebijakan daerah terhadap penyelenggaraan pasar sehat beserta dukungan pembiayaannya.
  3. Secara simultan advokasi dilakukan juga dengan lembaga legislatif (pimpinan dan anggota DPRD) guna mendapatkan dukungan dalam bentuk peraturan daerah maupun persetujuan pembiayaan penyelenggaraan pasar sehat.
  4. Selain lembaga eksekutif maupun legislatif, advokasi dilakukan juga kepada sektor swasta yang bersedia bekerja sama dalam penyelenggaraan pasar sehat

Sosialisasi

Kegiatan sosialisasi dimaksudkan untuk menyebarluaskan informasi kepada masyarakat mengenai rencana penyelenggaraan pasar sehat di kabupaten/kota yang bersangkutan, yang dapat dilakukan dalam bentuk rapat koordinasi rutin dengan melibatkan seluruh SKPD terkait maupun melalui media komunikasi yang ada di daerah seperti radio pemda, radio swasta spanduk, poster, leaflet, brosur  dan sebagainya agar semua komponen masyarakat mengetahui dan mendukung terhadap rencana penyelenggaraan pasar sehat.

1.2   Pembentukan Kelembagaan dan Penyusunan Rencana Kerja

Untuk mencapai keberhasilan penyelenggaraan pasar sehat kelembagaan penyelenggaraan pasar sehat memanfaatkan forum kabupaten/kota sehat yang telah memiliki struktur organisasi mulai dari tim pembina kabupaten/kota, forum komunikasi kecamatan dan kelompok kerja kelurahan. Dalam petunjuk teknis ini kelompok kerja pasar yang dimaksud adalah tim inti pasar/gugus tugas yang beranggotakan pengelola pasar, pedagang, perusahaan daerah pasar/unit pelaksana teknis daerah, asosiasi pedagang pasar, pemasok yang mempunyai tugas:

  1. Pengelolaan pasar
  2. Penerapan higiene dan sanitasi pasar (promosi pasar sehat)
  3. Pembinaan komunitas pasar
  4. Fasilitasi pedagang

1.3   Inspeksi Pasar

 1.      Survey Pendahuluan

Setelah dilakukan advokasi dan sosialisasi terhadap rencana penyelenggaraan pasar sehat, kegiatan berikutnya adalah melakukan inspeksi pasar dalam rangka mendapatkan gambaran mengenai kondisi fisik , operasional pasar secara umum, dan  identifikasi kebutuhan masyarakat pasar maupun mitra kerjanya, yaitu dengan:

  1. Survey pendahuluan dilakukan oleh Tim Pembina Kota Sehat Kota Payakumbuh.
  2. Melakukan analisis hasil survey pendahuluan sehingga diperoleh kesimpulan apakah pasar yang bersangkutan termasuk kategori tidak sehat, kurang sehat ataupun sehat sesuai dengan kriteria penilaian yang tercantum dalam Kepmenkes No.519/Menkes/SK/VI/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat
  3. Hasil analisis survey pendahuluan dipergunakan dalam penyusunan rencana tindak lanjut yang diperlukan untuk perbaikan peningkatan kondisi pasar.
  4. Menyampaikan laporan hasil penilaian inspeksi pasar kepada Tim Pembina Pusat, Propinsi, Kabupaten/Kota Sehat (bagi yang sudah terbentuk) atau stakeholder terkait baik di tingkat Pusat dan Provinsi berserta gugus tugas/pokja pasar/tim inti.

2.      Penilaian Kondisi Pasar secara Berkala

Penilaian terhadap kondisi pasar, dilakukan secara berkala untuk mengetahui perubahan yang terjadi selama kurun waktu tertentu. Penilaian dilakukan terhadap kondisi fisik kios/los dan lingkungannya serta perilaku pedagang maupun pengunjung pasar. Kegiatan ini berupa:

  1. Penilaian dilakukan oleh tim inti/gugus tugas dengan menggunakan formulir penilaian pasar (Form II) dari Kepmenkes No.519 Tahun 2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat
  2. Data yang terkumpul diolah dan dianalisis untuk menentukan kategori terhadap kondisi pasar, yaitu kondisi baik, cukup dan kurang (Petunjuk Pengisian Form II Kepmenkes No.519 Tahun 2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat)
  3. Hasil penilaian disampaikan kepada pengelola pasar, khusus untuk pasar yang kondisinya dikategorikan kurang, agar segera ditindak lanjuti untuk peningkatan kondisi pasar ke arah yang lebih baik
  4. Permasalahan yang ditemukan dalam peningkatan kondisi pasar yang  memerlukan bantuan pemerintah daerah maka pengelola pasar melakukan komunikasi melalui Tim Pembina Kabupaten/Kota (bagi yang sudah terbentuk) atau langsung ke Pemerintah Daerah untuk memperoleh dukungan.

1.4   Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM)

Penyelenggaraan pasar sehat melibatkan banyak pihak baik pemerintah, swasta, pengelola pasar, pemasok, pedagang, pengunjung serta masyarakat yang tinggal disekitar atau berdekatan dengan kawasan pasar. Agar penyelenggaraan pasar sehat diketahui dan dipahami serta memperoleh dukungan dari berbagai pihak yang terlibat, maka perlu dilakukan upaya peningkatan kapasitas SDM dalam bentuk pelatihan. Berbagai jenis kurikulum dan modul pelatihan yang dibutuhkan telah disusun oleh Kementerian Kesehatan dan siap digunakan (terlampir), antara lain:

1.        Pelatihan Manajemen Pasar Sehat bagi Petugas  

Sasaran pelatihan manajerial pasar sehat:

Pemangku kepentingan dan stakeholder terkait pasar tradisional target penyelenggaraan pasar sehat

Tujuan pelatihan:

Meningkatkan pengetahuan, keterampilan serta kepedulian untuk membangun komitmen serta berpartisipasi secara aktif dalam penyelenggaraan program pasar sehat.

Secara khusus juga diharapkan mampu untuk:

  1. Memahami kebijakan-kebijakan dari kementrian terkait tentang pasar sehat
  2. Memahami gambaran epidemiologi avian influenza di Indonesia
  3. Menjelaskan tentang prinsip prinsi pasar sehat
  4. Menjelaskan tentang pencegahan dan penanggulangan virus avian influenza melalui strategi memperkuat bio-sekuriti sepanjang rantai pangan
  5. Menguraikan prinsip prinsip analisis risiko yaitu, Analisis Bahaya Titik Kendali Kritis (ABTKK) dan keamanan pangan
  6. Melakukan studi lapangan pada pasar tradisional
  7. Menjelaskan tentang pengembangan dan manajemen dari program pasar sehat dan model-model pengembangan pasar sehat
  8. Menyusun RKTL

2.        Pelatihan Participatory Hygiene and Sanitation Transformation (PHAST) penyelenggaraan pasar sehat

Sasaran pelatihan PHAST pasar sehat :

Tenaga pelaksana lapangan yang bertanggung jawab sebagai fasilitator penerapan aspek-aspek perubahan perilaku di pasar tradisional target pengembangan pasar sehat. Peserta pelatihan adalah

Tujuan pelatihan:

Memperoleh fasilitator penerapan aspek-aspek perubahan perilaku hygiene dan sanitasi pengembangan pasar sehat yang berperan dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kepedulian masyarakat pasar dalam mengurangi resiko penularan penyakit menular berbasis lingkungan di pasar tradisional

Secara khusus, fasilitator – fasilitator tersebut mampu:

  1. Melaksanakan tugas sebagai fasilitator penerapan aspek-aspek perubahan perilaku hygiene dan sanitasi pasar sehat
  2. Menjelaskan risiko yang berkaitan dengan perilaku hygiene dan sanitasi yang buruk
  3. Menerapkan metode partisipatif dalam proses pembelajaran
  4. Menjelaskan tentang identifikasi masalah hygiene dan sanitasi di pasar tradisional berikut analisa dan proses perencanaan pemecahan masalah tersebut.
  5. Menjelaskan tentang proses penentuan opsi perilaku dan sarana dalam peningkatan kualitas hygiene dan sanitasi di pasar
  6. Menjelaskan proses penyususnan rencana kerja masyarakat untuk meningkatkan perubahan perilaku hygiene dan sanitasi di pasar
  7. Menjelaskan proses pelaksanaan pemantauan dan evaluasi peningkatan upaya perubahan perilaku hygiene dan sanitasi pasar sehat oleh masyarakat pasar

3.        Pelatihan pembersihan pasar

 Sasaran pelatihan pembersihan pasar sehat :

Tenaga pelaksana lapangan yang bertanggung jawab sebagai tenaga yang bertanggung jawab mengawasi, melaksanakan dan mengevaluasi proses pembersihan pasar.

Peserta pelatihan adalah Dinas Kebersihan, petugas kebersihan pasar dan pedagang.

Tujuan pelatihan:

Melatih peserta untuk mengenal alat pembersihan pasar sehat; memakai, menyimpan dan merawat alat dengan benar; menjaga agar alat tetap bekerja dengan baik; serta mengetahui cara pemakaian detergen/disinfektan dengan benar.

 4.        Pelatihan manajemen radioland

Sasaran pelatihan manajemen radioland :

Tenaga pelaksana lapangan yang bertanggung jawab dalam mengelola radioland untuk menyiarkan informasi dan komunikasi di pasar sehat.

Peserta pelatihan adalah Pedagang, Pengelola Pasar, Dinas Kesehatan, Dinas Perdagangan, dan Dinas Peternakan

Tujuan pelatihan:

Melatih manajemen radioland untun dapat memenuhi kepentingan dan kebutuhan komunitasnya akan informasi serta komunikasi melalui kegiatan penyiaran; mempertahankan dan meningkatkan daya hidup guna menyelenggarakan kegiatan penyiaran.

Secara khusus manajemen di dalam kelembagaan Radioland dibutuhkan untuk menjalankan fungsi – fungsi vital radioland, yaitu:

  1. Mengintegrasikan Radio Land sebagai Salah Satu Bagian dari Masyarakat
  2. Menjamin Kemudahan Memperoleh Sumberdaya
  3. Hubungan dengan Masyarakat
  4. Memantapkan Visi/Misi
  5. Perencanaan, Pengorganisasian, Pengarahan, Pengendalian, dan Evaluasi
  6. Mengintegrasikan Subsistem Sosial dan Subsistem Tugas

 1.5       Pembinaan hygiene dan sanitasi pangan

Berbagai jenis pangan mulai dari bahan pangan mentah sampai makanan siap saji tersedia di pasar baik yang masa kedaluarsanya singkat maupun yang lebih tahan lama. Mengingat pasar merupakan tempat interaksi antara pedagang dan pembeli/konsumen untuk memenuhi kebutuhan akan pangan maka keamanan pangan yang dijual di pasar harus mendapat perhatian dari para pengelola dan pembina pasar. Keamanan pangan (food safety) yaitu pangan bebas dari cemaran fisik, kimia dan biologis sehingga aman dikonsumsi dan bermanfaat bagi tubuh.

Upaya pengamanan pangan di pasar yaitu :

  1. Harus menjual bahan pangan yang sehat dan segar
  2. Tidak menggunakan bahan berbahaya (formalin, rodhamin, boraks)
  3. Tidak menggunakan bahan tambahan pangan (BTP) melebihi dosis yang ditetapkan
  4. Perlakuan terhadap bahan pangan disesuai dengan jenis bahan pangan yang dijual (bahan pangan mentah dan matang dipisah, bahan pangan matang disajikan tertutup)
  5. Tersedia rantai dingin (cold chain): freezer/kulkas atau cool box yang berisi es untuk penyimpanan daging/karkas dan ikan yang tidak habis terjual
  6. Untuk penyajian ikan segar harus diberikan es dalam jumlah yang cukup untuk mempertahankan kesegaran ikan
  7. Penjualan karkas daging/ayam harus digantung, tidak kontak dengan meja penjualan
  8. Penjual mengunakan celemek, tutup kepala, dan sarung tangan untuk menghindari kontaminasi dengan bahan pangan
  9. Tersedia bak penampung air beroksigen untuk ikan hidup
  10. Cuci tangan pakai sabun setiap selesai melayani pembeli
  11. Tersedia pengelolaan sampah khusus untuk sisa buangan ikan
  12. Penjual harus sehat dan tidak menderita penyakit menular
  13. Tempat penjualan/peralatan penjualan harus dibersihkan sebelum dan sesudah aktivitas berjualan serta dijaga kebersihannya selama proses berjualan
  14. Lingkungan tempat penjualan harus dijaga kebersihannya

1.6    Penyediaan sarana dan prasarana pendukung perubahan perilaku

Perubahan perilaku perlu didukung dengan ketersediaan sarana dan prasarana. Pengembangan sarana dan prasarana pendukung perubahan perilaku yang ditetapkan dalam penyusunan rencana kerja penyelenggaraan pasar sehat antara lain:

  1. Penyediaan fasilitas sanitasi seperti toilet, tempat cuci tangan dan tempat sampah, sarana air bersih, sarana pembuangan air limbah, gerobak sampah, tempat penampungan sementara sampah (TPS),
  2. Penyediaan tempat pencucian peralatan
  3. Penyediaan media komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) seperti leaflet, booklet, poster, rambu-rambu
  4. Penyediaan alat pelindung diri seperti celemek, tutup kepala, sarung tangan, sepatu boot, masker, warepack & helm untuk petugas kebersihan
  5. Penyediaan alat dan bahan kebersihan pasar
  6. Perlengkapan/kit monitoring kualitas air dan bahan pangan
  7. Upaya perbaikan sarana dan prasarana pendukung perubahan perilaku antara lain:
  8. Perbaikan jalan, lantai, kios/los, atap, selokan/drainage, areal parkir, sumber air, tempat penampungan air, penerangan
  9. Penyempurnaan manajemen pasar
  10. Rencana kerja yang sudah disusun hendaknya dapat direalisasikan secara optimal.

 1.7       Penyediaan sarana penunjang di pasar

Sesuai dengan tujuan penyelenggaraan pasar sehat dalam rangka mewujudkan kondisi pasar yang bersih, aman, nyaman serta sehat baik untuk pedagang maupun pembeli/konsumen dan pengunjung pasar, maka pasar harus dilengkapi dengan sarana penunjang yaitu :

  1. Tempat penjualan unggas hidup(belum disesuaikan dengan pedoman Kesmavet)
    1. Tempat khusus dan terpisah dari pasar utama
    2. Jalan keluar masuk kendaraan dan tempat bongkar muat unggas tersendiri
    3. Tersedia tempat pemotongan unggas (memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Kementerian Pertanian)
  1. 2.      Tempat Ibadah (musholla)
    1. Lokasi mudah dijangkau
    2. Bersih dan tidak lembab
    3. Tersedia air bersih mengalir dalam jumlah cukup baik untuk toilet maupun untuk keperluan wudhu
    4. Ventilasi dan pencahayaan yang cukup
    5. Dilengkapi peralatan ibadah
  1. 3.      Pos Pelayanan Kesehatan
    1. Tersedia ruangan khusus yang digunakan sebagai pos pelayanan kesehatan baik untuk pedagang maupun konsumen/pengunjung dan beroperasional sesuai kebutuhan
    2. Dilengkapi dengan peralatan serta obat-obatan  P3K
    3. Tersedia tenaga medis sesuai kebutuhan
    4. Lokasi mudah dijangkau
    5. Pos pelayanan kesehatan ini dapat pula difungsikan sebagai posko untuk kegiatan pemantauan penyakit (surveilans epidemiologi)

Leave a Comment