Perilaku dan Lingkungan sebagai Fokus Utama

Mewujudkan Kota Sehat di Payakumbuh

Focus utama pembangunan kesehatan secara menyeluruh, factor lingkungan dan perilaku, kedua faktor ini merupakan factor paling menentukan.

Sejak tahun 2006 Payakumbuh telah berbenah dan berupaya kuat membina ke-dua sector ini untuk arah yang lebih baik. Tentunya upaya-upaya tersebut memerlukan keterlibatan semua pihak, mulai dari para pejabat tinggi di daerah, pada wakil rakyat (DPDR), Ninik Mamak (pemuka adat), Bundo Kanduang (pemuka adat wanita), puskesmas, kader, sampai dengan tingkat keluarga sebagai organisasi masyarakat yang terkecil.

Fokus permasalahan sanitasi di Kota Payakubuh saat ini meliputi masalah :

  1. Pembenahan Sarana Air Bersih,
  2. Pembenahan Drainase,
  3. Pembenahan Masalah Sampah, dan
  4. Pembenahan Limbah Rumah Tangga.

Ke-4 (empat) masalah tersebut tertuang dalam “BUKU PUTIH” Sanitasi Kota Payakumbuh, dimana dari keseluruhannya dapat dirangkum menjadi 3 masalah pokok utama yakni :

  1. masalah Perilaku (Pola Hidup Bersih dan Sehat/PHBS),
  2. masalah Management dan
  3. masalah Insfra Struktur.

Deklarasi Sanitasi Kota Payakumbuh

Fokus ini tertuang dalam Strategy Sanitasi Kota (SSK) yang telah disusun di Kota Payakumbuh secara bersama-sama dengan melibatkan segala unsur Kota dan telah  disepakati dalam DEKLARASI SANITASI KOTA PAYAKUMBUH, tanggal 1 Mei 2007.

klik untuk memperbesar

Focus Lingkungan Sehat ini berjalan secara parallel dengan peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dari masyarakat Kota Payakumbuh, dimana jika salah satu berjalan tidak berdampingan, maka tujuan akhir tidak akan tercapai. Kota Payakumbuh dalam hal ini merupakan Kota di Indonesia yang berupaya untuk mewujudkan ke-4 strategy tersebut berjalan secara parallel dengan peningkatan perilaku masyarakatnya secara baik, sehingga seluruhnya bisa berjalan sesuai dengan harapan kesehatan masyarakat. Sungguh suatu upaya yang sangat sulit, namun Jajaran Pemerintah Kota selalu bertekad untuk memulainya dari yang kecil, yang sederhana, yang mampu dilaksanakan secara dini dan harus dimulai saat ini juga.

Intinya, permasalahan sanitasi ini memang menjadi komitmen yang kuat di pemerintah kota Payakumbuh bersama masyarakatnya, implikasinya ditunjukkan dengan berjalan baiknya pendampingan program ISSDP, peningkatan anggaran pembenahan sanitasi di Kota Payakumbuh, masalah sanitasi merupakan salah satu focus dalam RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menegah Daerah) di Kota Payakumbuh, berfungsinya Pokja AMPL (Air Minum Penyehatan Lingkungan) dan berperan aktifnya Forum Kota Sehat di Kota Payakumbuh.

Masalah sanitasi merupakan masalah yang sangat merugikan Negara, Indonesia harus kehilangan lebih dari Rp. 58 triliun atau sebanding dengan Rp. 265.000,- per orang setiap tahun akibat sanitasi yang buruk, informasi ini diperoleh menurut “Economic Impacts od Sanitation in Southeast Asia” yang diterbitkan pada bulan Nopember 2007 oleh Water and Sanitation Program (WSP) Bank Dunia. Hal ini juga dirasakan Pemerintah Kota Payakumbuh, akibat sanitasi yang buruk, banyak kerugian produktifitas masyarakat akibat sakit.

Sejak tahun 2006, Kota Payakumbuh telah memberikan alokasi anggaran APBD untuk pengembangan kegiatan sanitasi, terjadi peningkatan yang sangat significant mulai dari tahun 2006 sejumlah Rp. 3.414.000,- (0,018% dari APBD) menjadi Rp. 18.659.000.000,- (5,316 % dari total APBD Kota Payakumbuh pada tahun 2009, hal ini setara dengan Rp. 176.100,- per orang per tahun, sementara WHO menyarankan hanya Rp. 47.000,- per orang per tahun. Upaya ini sejalan dengan komitment Millenium Development Goals (MDGs) bahwa minimal separuh dari masyarakat yang tidak mendapatkan akses sanitasi dapat dilayani pada tahun 2015.

Mensiasati masalah tersebut, khusus persampahan yang merupakan masalah pelik di hampir seluruh Kab/Kota di Indonesia. Kota Payakumbuh menerapkan beberapa strategy yakni dengan bekerja sama dengan “Bank Danamon” mengembangkan pupuk organik dari sampah organic yang diproduksi masyarakat Payakumbuh. Saat ini tercatat 51,25 ton sampah organic yang telah diolah menjadi Kompos dengan produksi sampah organic di masyarakat rata-rata 6,06 ton/bulan.

Konsep Public-Private Partnership memang telah bergulir dengan baik di Kota ini dalam menunjang terlaksananya Good Coorporate Governance di Kota Payakumbuh. Pengelolaan ini juga telah direplikasikan ke masyarakat agar lebih berdaya melalui program IPO (Industry Pupuk Organik) pada 4 (empat) kelurahan di Payakumbuh, sementara untuk tingkat sekolah dilaksanakan melalui Pola 3R (Reduce, Reuce, Recycle) pada 11 sekolah dengan kapasitas 2-3 m2 (kompos/sekolah). Dengan program ini Kota Payakumbuh behasil meraih predikat “Kota Adipura” tahun 2006, 2007, 2008 dan 2009.

piala adipura diterima di Instana Negara

Gambar : Walikota Payakumbuh menerima Piala Adipura, 2009.

Kota Payakumbuh juga mengembangkan Program CLTS (Community Led Total Sanitation). Kegiatan ini dimulai oleh Dinas Kesehatan Kota dan dipimpin oleh tokoh masyarakat setempat. Program ini mempromosikan suatu pendekatan peningkatan perilaku masyarakat secara bertahap. Tiga perempat dari jumlah rumah tangga di lokasi tersebut telah membangun jamban mereka sendiri dengan menggunakan material yang telah mereka miliki sendiri, serta dana mereka sendiri (SWADAYA). Sementara itu petugas kesehatan dari Puskesmas setempat memantau kemajuan pada setiap kunjungan mingguannya.

Informasi diatas memberikan gambaran bahwa peningkatan kualitas lingkungan dan perilaku memang harus berjalan secara parallel, sebab keduanya memang saling berkaitan antara satu dengan yang lain.

 Penghargaan Kota Sehat

Berbagai hal tersebut terus dijalankan di Kota Payakumbuh, sehingga pada gilirannya prestasi Kota Sehat telah diraih Kota ini sampai tahun 2009 meraih peringkat Kota Sehat Tingkat Pengembangan sebagai Kota Sehat level tertinggi untuk tingkat Kab/Kota dari Menteri Kesehatan :

1)     Kota Swasti Saba Padapa tahun 2004,

2)     Swasti Saba Wiwerda Tahun 2005 dan 2007,

3)     Swasti Saba Wistara Tahun 2009.

Selain predikat Kota Sehat ini, Kota Payakumbuh akhirnya juga mampu memperoleh penghargaan ADIPURA selama 4 (empat) tahun berturut-turut, kedepan komitmen untuk meraih “Adipura Kencana” sebagai target lanjutan, tentunya dengan tetap mengindahkan factor perilaku masyarakat untuk tetap terlibat aktif dalam menjaga lingkungannya.

Dari prestasi tersebut, pembangunan lingkungan dan perilaku tidaklah berhenti, saat ini sejak pertengahan tahun 2009,  fokus perhatian pemerintah Kota Payakumbuh juga mulai berkembang kepada :

  1. Pemicuan untuk merubah perilaku Buang Air Besar (BAB) disembarang tempat (Open Defecation Free /ODF).
  2. Pemicuan untuk merubah perilaku untuk tidak merokok (Reduce Tobacco).
  3. Pemicuan untuk meningkatkan perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun, sebab terbukti bahwa perilaku ini lebih banyak mengurangi resiko penularan penyakit infeksi pada masyarakat secara significant.

fuad baraja melatih terapi berhenti merokok di payakumbuh

Gambar : Pelatihan Terapi Berhenti Merokok dengan NS. Fuad Baraja, 2010.

Gerakan-gerakan dilakukan untuk memberikan sentuhan sinergis antara perilaku sehat dan lingkungan yang bersih menuju  kepada upaya MENCEGAH PENYAKIT LEBIH BAIK DARI MENGOBATI di Kota Payakumbuh.

Leave a Comment